Profesi yang ‘Bermakna’ – Sebuah Penyesalan

“everyone is special in their own way…

we make each other strong…

we’re not the same, we’re different in a good way…

together where we belong…”

sebelumnya, saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan, memandang rendah sesuatu, atau other abusive things that you may thinking about. saya hanya ingin berbagi pengalaman saya apa adanya, yang mampu merubah kehidupan saya menjadi lebih baik.

sangat sepakat pada bait lagu yang dinyanyikan oleh Gabriela (Vanessa Hudgens) di akhir film High School Musical ini. tapi kita tidak sedang membicarakan ide-ide orang yang ‘pluralis’. maksud saya “different in a good way” tidak boleh di perluas ke ranah gagasan pemikiran yang fundamental seperti itu. saya memang tidak mau mengarah ke situ. saya hanya ingin berbagi mengenai pengalaman yang mampu membuka mata saya yang selama ini tertutup rapat.

saya adalah orang yang ambisius, sinonimnya adalah ‘pengejar mimpi sejati’. entah mengapa, menetapkan mimpi adalah kebiasaan saya sejak kecil dahulu. hampir setiap profesi di dunia ini pernah saya impikan (well, at least what i mean is that i have dreamed a lot of things to be in the future). dan karakter profesi yang pernah saya impikan memiliki perbedaan yang variatif. masa TK dan SD awal, saya pernah ingin menjadi Presiden Republik Indonesia (cita-cita klasik anak kecil yang terpengaruh guyonan orang-orang tua di sekitarnya). tak lama, aku menyadari kebiasaanku menggambar, baik di atas kertas maupun di Paint.exe yang ada di setiap laptop atau komputer di windows manapun. itulah mengapa saya ingin menjadi seorang desainer produk, fokus pada bagian paling teknis dalam dunia pekerjaan, yakni ‘perilaku men-desain’ nya, bukan seperti pekerjaan Presiden yang perilakunya adalah mengelola, manajerial, dan lain-lain.

namun impian desainer itu sirna karena kekaguman saya melihat guru-guru saya di SMP yang sangat berdedikasi dalam bekerja. saya kagum dengan filosofi seorang guru yang berkorban waktu untuk orang lain, membuat anak polos menjadi tidak polos lagi karena ilmu pengetahuan yang dimilikinya, membuat seorang anak keluar dari ‘ketidaktahuannya’. dan itu adalah pekerjaan yang mulia.

dari situ, saya mulai memiliki apa yang dinamakan dengan ‘paradigma’ (atau jika kau kesulitan memahaminya, anggaplah itu semacam ‘pandangan’). paradigma mengenai pemilihan profesi: bahwa jika kau hendak bekerja, jangan hanya kau lihat dari ‘apa yang kau suka lakukan’, tapi galilah kebermaknaannya, seberapa besar ‘makna’ yang kau dapatkan ketika kau melakukan pekerjaan itu. namun bukan berarti kau harus memalingkan wajah dari ‘apa yang kau sukai’ atau bahasa simple nya adalah minat. prinsipnya, keduanya harus SEIMBANG, jangan kau hanya menuruti kesukaanmu tanpa memandang tingkat kebermaknaan suatu pekerjaan.

saya sendiri menginginkan profesi guru, sebab saya merasa guru adalah orang yang bermakna bagi murid-muridnya, jika guru tersebut mampu menjalankan perannya dengan baik. dan di saat yang sama, saya memandang pekerjaan teknis seperti yang saya impikan sebelumnya adalah pekerjaan yang minim kebermaknaan, dan apabila ada yang mencita-citakan hal seperti itu, maka saya cenderung tidak menyukainya.

paradigma ini semakin menancap dalam diri saya, ketika saya berkenalan dengan profesi ‘manajer’ yang sesungguhnya (bukan manajer seperti yang pernah saya impikan di saat TK atau SD awal, karena itu sesungguhnya mimpi yang asal-asalan). saya melihat sosok Dahlan Iskan yang mampu mengelola (melakukan aktivitas manajerial) di Jawa Pos, dan berhasil membuat sebuah perusahaan koran tersebut maju. dan yang paling saya kagumi adalah aktivitas yang paling banyak ia lakukan adalah ‘menggerakan orang lain untuk bekerja’.

dalam sebuah buku yang mengulas habis perilaku Dahlan, saya pernah menemukan bahwa dalam sebuah perusahaan koran, terdapat teknisi jurnalistik yang harus bekerjasama untuk menciptakan koran harian, mulai dari pencari berita, pemotret realita, penulis di kolom koran, desainer yang mengatur tata letak berita-berita di koran, dan lain sebagainya. prinsip keberhasilan perusahaan koran itu adalah jika setiap teknisi jurnalistik tersebut mampu bekerja sesuai dengan pekerjaannya. dan jika ada salah satu dari teknisi tersebut yang tidak bekerja, maka perusahaan koran tersebut pasti mengalami kecacatan produksi koran. misal saja kalau pemotret realita tidak mampu mengambil angel yang baik dalam mem-foto peristiwa, maka daya tarik koran akan menurun. sebab salah satu yang membuat pembaca koran tertarik untuk membaca koran adalah karena gambar yang ditampilkan memiliki daya tarik, baik estetis atau keindahannya, maupun dari ke-wholistik-an gambar tersebut (misalnya realitas kebakaran di Jakarta, tidak hanya api saja yang dipotret, tapi bagaimana wajah para pemilik rumah yang kebakaran juga turut terpotret bersamaan dengan api untuk menciptakan kesan keresahan, kericuhan, kegaduhan warga karena kebakaran). pun dengan teknisi jurnalistik yang selainnya.

siapa yang paling mampu menggerakkan teknisi jurnalistik tersebut untuk bekerja optimal di pekerjaannya? adalah sosok manajer yang menjadi penentu bergerak atau diamnya orang di bawahnya. saya sendiri menghayati, jika orang yang ada di atas saya (sebagai orang yang harus saya ikuti perintahnya) kemudian bermalas-malasan, tidak bekerja, maka saya akan menggerutu dan tidak mau menjalankan pekerjaan saya. saya memilih keluar dari perusahaan tersebut dan menggeluti hal lain. tapi karena adanya pemimpin yang mampu membuat saya paham betapa pentingnya perusahaan koran tersebut, dan ia bisa membuat saya percaya diri untuk membuat perusahaan koran menjadi maju, maka saya akan bergerak.

sejak itu, makna kebermaknaan saya semakin dipersempit, menjadi aktivitas yang digeluti oleh manajer, di mana ia menjadi penentu berhasil atau tidaknya sebuah manajemen. dan semakin saya menyadari, hidup ini adalah aktivitas manajemen. kau hidup di dunia produksi pasta gigi, meskipun kau menjadi seorang desainer bungkus pasta gigi, tapi kau terlibat aktivitas manajemen dari manajer perusahaan pasta gigi mu. bahkan hal terkecil dari diri kita, yakni diri kita sendiri, pun adalah aktivitas manajemen. dan bayangkan, jika hidup ini adalah manajemen, maka manajer-manajer perusahaan yang ada di masyarakat pastilah orang yang paling bisa manajemen, yang paling banyak karyanya sebab ia memiliki kesempatan untuk menggerakkan seluruh elemen yang ada di sebuah organisasi untuk bergerak.

dan bayangkan jika organisas yang kau gerakkan bukanlah organisasi skala kecil, tapi organisasi nasional seperti Negara, atau organisasi internasional seperti PBB? maka jika kau adalah manajernya, kau pasti menjadi sangat bermakna bagi seluruh elemen masyarakat nasional, maupun dunia.

itu yang saya sebut dengan BERMAKNA, di kala itu. dan di saat yang bersamaan, saya menganggap, cita-cita tertinggi manusia yang paling luhur adalah menjadi seorang manajer. wajar saja jika manajer selalu di-elu-elu kan dimana-mana, sebab aktivitas yang dilakukan manajer adalah hal termulia dari yang pernah ada, di mana ia mempengaruhi jutaan jiwa di seluruh dunia jika ia berhasil memegang jabatan manajer organisasi tingkat dunia. sedangkan pekerjaan yang bukan manajer merupakan pekerjaan yang minim makna, dan harus saya hindari. sejak saat itulah saya mengganti impian saya, untuk menjadi MANAJER!

lumayan lama paradigma itu bertahan dalam diri, menjadi acuan bagi diri saya untuk terus berkembang dan bertumbuh, memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh seorang manajer. tentunya saya tidak ingin menjadi manajer yang kepinginnya hanya popularitas dan duit seperti kebanyakan manajer-manajer (baca: gubernur, walikota atau presiden) saat ini. saya ingin menjadi manajer yang bersih, benar-benar membawa kebermaknaan bagi orang banyak. dan saya hampir merasa bahwa paradigma seperti ini haruslah dimiliki oleh semua orang yang menginginkan hidupnya berhasil. ia harus menjadi seorang manajer, harus bermimpi untuk menjadi seorang manajer. ia tidak akan menjadi manusia yang ‘sesungguhnya’ jika belum bermimpi menjadi manajer. dan aku tidak akan pernah membiarkan diriku untuk kehilangan mimpi berharga itu.

paradigma itu pun tercermin ke dalam perilaku keseharianku. di kelas, saya menjadi seorang pemimpin bagi teman-teman kelasku. dalam kepanitiaan OSPEK, saya menjadi koordinator divisi (yang menjalankan aktivitas manajerial juga). dan dalam pergaulan sehari-hari, saya seringkali mengajukan diri untuk mengelola sesuatu. prinsipnya ini adalah kebermaknaan, dan saya hendak melatih diri untuk bisa menjadi lebih bermakna di kemudian hari.

hingga suatu hari, sebuah peristiwa menimpa saya. dalam sebuah kepanitiaan di event tahunan kampus yang merupakan ajang bergengsi, saya tidak dilibatkan dalam struktur inti kepanitiaan. menjadi koordinator divisi pun tidak. tahukah kau di mana posisi saya di kepanitiaan tersebut? saya berada di posisi yang paling teknis dari pekerjaan-pekerjaan yang pernah ada di kepanitiaan tersebut: time keeper (event tahunan tersebut adalah ajang kompetisi bahasa Inggris yang salah satu kompetisinya adalah kompetisi permainan Scrabble). dalam game tersebut, time keeper dibutuhkan untuk menghitung per satu menit untuk memberikan giliran ke setiap pemain. dan dalam aktivitas time keeper tersebut, saya hanya perlu berinteraksi dengan stopwatch dan mengatakan ‘STOP’ atau ‘START’ ketika hitungan menitnya baru saja akan dimulai maupun akan diakhiri.

kau tahu, betapa teknisnya pekerjaan itu, bukan? dan kau tahu betapa aku membenci pekerjaan-pekerjaan yang teknis tersebut? kebencian itu disebabkan oleh pandangan saya bahwa ‘bermakna’ itu berarti haruslah pekerjaan yang mampu menggerakkan orang lain untuk bekerja, bukan bergelut dengan diri sendiri atau benda mati. jika hanya berkutat pada diri dan apa yang sedang dikerjakan, maka kita tidak akan bisa memberikan  makna.

namun saat saya menjalani tugas time keeper saya, entah mengapa secara ajaib saya merasakan ‘makna’. rasa bermakna yang mampu membuat saya menikmati pekerjaan saya dengan stopwatch tersebut. kau tahu bukan, jika aku tidak merasa bermakna, maka aku tak akan berlama-lama menjadi time keeper, dan lebih memilih pulang untuk mengembangkan diri menjadi manajer yang baik. tapi yang kulakukan adalah, aku bertahan dengan aktivitas tersebut.

kau tahu mengapa? sebab aku menyadari, bahwa selama ini aku salah dalam memahami ‘kebermaknaan’, ketika aku membayangkan bagaimana jadinya kompetisi tahunan Scrabble itu tanpa ada sosok yang menghitungkan waktu untuk giliran permainan. bagaimana jadinya jika saya pulang, dan tidak ada yang bisa menggantikan posisi saya sebagai time keeper? tentu akan membawa kekacauan pada pekerjaan-pekerjaan yang selainnya. misalnya ketua panitia akan menggantikan saya, padahal ketua panitia itu juga ada yang harus dilakukan yakni mengontrol berjalannya perlombaan dengan baik.

dan saya membayangkan, jika semua orang yang ada di kampus saya tersebut memiliki ambisi yang sama untuk menjadi ketua panitia kompetisi, akankah kompetisi berjalan dengan baik? semua menjadi ketua panitia, apakah itu mungkin? lantas siapa yang menjadi juri? siapa yang menjadi penyedia konsumsi? siapa yang fokus menata ruangan untuk berjalannya kompetisi? siapa yang menjadi pendamping setiap tim untuk bermain? dan siapa yang akan menghitungkan waktu untuk memberikan giliran pada setiap pemain?

peristiwa itu membuat saya tertegun sejenak di tengah-tengah aktivitas teknis yang tengah saya jalankan itu. mungkin selama ini aku terlalu terburu-buru menyimpulkan. seorang manajer tidak akan menjadi bermakna jika ia tidak memiliki orang di bawahnya untuk dimanajemen. sehingga bawahan pun akan menjadi bermakna bagi manajer. kata ‘bermakna’ ini yang harus saya ubah maknanya.

dan inilah yang saya sebut sebagai “everyone is special in their own way… we make each other strong”.

yang terpenting dari kehidupan ini adalah bagaimana kau optimal dalam menjalankan peranmu, baik peran manajerial, atau peran teknis. karena pemeran manajer pasti membutuhkan teknisi, dan teknisi akan sangat membutuhkan manajer untuk bekerja.

tidak ada yang lebih spesial satu sama lain, semua orang adalah spesial di perannya masing-masing.

dan sekarang, saya siap ditempatkan di manapun, baik itu manajerial, teknis atau apapun, asalkan saya mampu memberikan kontribusi saya bagi berlangsungnya manajemen tersebut. saya bukan lagi orang yang ambisius menjadi seorang manajer. ambisi saya telah saya tuangkan pada ambisi ‘memberikan makna lewat kontribusi pada apa yang saya geluti’.

dengan begitu, tidak akan lagi saya memandang sebelah mata pekerjaan desainer produk. tidak akan saya anggap remeh pekerjaan-pekerjaan teknis.

ini hanyalah perkara, apakah kau mampu menjalankan peranmu dengan baik di sebuah kepanitiaan, menjalankan peranmu dengan sungguh-sungguh di sebuah organisasi, atau menjalankan peranmu dengan profesional untuk masyarakatmu?Image

Advertisements

One thought on “Profesi yang ‘Bermakna’ – Sebuah Penyesalan

  1. Thanks again Vadhiliya. Berhubungan dengan tulisanku berhubungan juga dengan pekerjaan dan kesukaan, saya masih lupa untuk menyisipkan tentang makna dalam bekerja, ini jadi pelajaran yang baik.

    Sering banyak orang yang melupakan esensi dari pekerjaan yang telah digelutinya. Membuatnya tak pernah puas dalam melakukan sesuatu. Saya pun ingin semua orang dapat bekerja sesuai dengan apa yang mereka minati, tetapi tidak melupakan esensi dari kemaknaan tersebut.

    Rejeki tidak akan tertukar, asal kita sebagai hamba-Nya menjalankan semua yang telah disediakan dengan baik, karena disitulah kita akan berkembang dan menjadi seseorang yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s