Mencintai Manusia: Kebijaksanaan Hidup

Saya tidak mengajak untuk menempatkan manusia di tempat tertinggi di dunia ini, karena yang patut kita agungkan di atas segalanya adalah Tuhan Yang Maha Kuasa beserta nilai-nilai kebenaran yang menyertai kehidupan. Namun salah satu nilai kebenaran dalam hidup ini adalah mencintai manusia. Ini lebih dari sekedar menolong manusia-manusia yang kelaparan di negara berkembang, atau menolong manusia yang baru saja tertimpa bencana alam, maupun manusia yang mengungsi dari tempat asalnya oleh karena peperangan yang tidak henti. Mencintai manusia berarti menerima manusia apapun ras nya, apapun sukunya, apapun agamanya, apapun kebangsaannya, bagaimanapun inteligensinya, apapun kelemahannya, apapun bakatnya, bagaimanapun softskillnya, dan apa adanya.

Sepanjang Hidupnya, Manusia akan Berproses Menuju Kesempurnaan

Pertanyaannya, apakah manusia akan mencapai kesempurnaan? Jawab saya, iya, jika kita bisa hidup selama 5000-7000 tahun lamanya, tergantung tingkat inteligensi dan kemampuan fisik kita. Sayangnya, kesempatan kita untuk senantiasa berbenah diri hanya sebanyak kurang lebih 90 tahun lamanya, tentu merupakan waktu yang tidak banyak untuk mengevaluasi diri dan berkomitmen untuk melakukan perbaikan diri. Dan semua manusia yang saat ini sudah meninggal dunia telah mengakhiri “proses menuju sempurna” mereka dalam keadaan belum sempurna, tentunya.

Bagaimana yang dimaksud dengan Proses Menuju Sempurna (PMS) ini? Saya sendiri tidak layak untuk menyebutkan, apa ‘kesempurnaan’ yang dimaksud. Seorang bayi terlahir penuh dengan ketidaksempurnaan: tidak bisa berjalan, tidak bisa berbicara; akan tetapi ketika manusia tua renta, kemampuan berjalannya juga menurun, giginya akan berkurang sehingga bicaranya tak teratur. Apakah sempurna berarti fisik yang semakin kuat? Tidak, fisik bukan indikator kesempurnaan yang manusia ‘kejar’, sebab secara alamiah, tidak bisa dipungkiri bahwa fisik manusia akan melemah seiring bertambahnya usia.

Sempurna itu bersifat hal imaterial, berhubungan dengan hati dan pikiran yang ada dalam jiwa manusia. Sepengalaman saya, orang-orang tua mampu melihat kehidupan lebih bijaksana daripada anak muda yang masih mencari jati diri dan kesenangan. Dan orang-orang tua yang bijaksana itu dulunya juga anak muda yang masih mencari jati diri. Ini menunjukkan adanya kaitan erat antara waktu hidup seseorang dengan kesempurnaan. Lantas bagaimana kesempurnaan itu? Saya sebut saja ‘kebijaksanaan hidup’ (dan jangan tanya yang bagaimana itu kebijaksanaan hidup! Saya hanya manusia umur 25 tahun ke bawah, hehe)

Dalam Prosesnya, Manusia Mutlak Melakukan Kesalahan

Simple saja, seperti halnya bayi yang belajar berjalan, pasti ada saat di mana bayi tersebut terjatuh. Seperti halnya bayi yang belajar berbicara, pasti ada kata dan kalimat yang tidak tertata keluar dari mulutnya. Seperti halnya UTS di atas KKM, ada remedial-remedial yang dilalui sebelumnya. Seperti pengusaha besar terkenal tingkat dunia, ada jatuh bangun perintisan usaha dan pengembangan usahanya.

Setiap hal yang kita lakukan merupakan proses. Yang namanya proses bisa naik ke atas, stagnan, atau bahkan bisa turun. Turun bukanlah tanda-tanda proses yang berbalik arah menuju ketidaksempurnaan. Turun bisa jadi bagian dari proses untuk naik kembali.

Inilah yang seringkali tidak dimengerti kebanyakan kita sebagai manusia: ketika orang lain melakukan kesalahan, kita menganggapnya sebagai penurunan mutlak. Anak mendapat nilai 40 di pelajaran Matematika di sekolah, Sang Ibu larut dalam kekecewaan dan amarah, menutup pikiran untuk menerima kesalahan anak dalam menjawab pertanyaan di sekolah tersebut sebagai bagian dari proses memahami pelajaran Matematika, bahkan menganggap bodoh anak tersebut. Reaksi ibu yang marah-marah membuat anak tertekan, terhambatlah perkembangannya (tentang ilmu mendidik anak, bisa dibahas di artikel lainnya). Apakah anak tidak akan berproses menuju kesempurnaan setelahnya? Tentu saja ia akan melanjutkan PMS nya, pertanyaannya hanyalah berapa lama ia akan berada dalam posisi turun atau stagnan? Berapa lama ia akan menyadari kesalahannya dalam menjawab soal Matematika? Kapan ia akan memahami perasaannya ketika dimarahi oleh Ibu? Kapan ia akan memahami bahwa Ibunya sedang kecewa dan tidak berpikir jernih? Dan kapan pula si anak akan memahami bahwa ia tidaklah bodoh seperti apa yang ibunya pikirkan?

Dan apakah Sang Ibu sedang menuju proses ketidaksempurnaan? Tentu saja tidak. Kita hanya menanti, kapan Sang Ibu akhirnya bisa memahami tingkat inteligensi anaknya? Kapan akhirnya Sang Ibu sadar bahwa anaknya tidaklah bodoh? Kapan Sang Ibu sadar akan suasana emosinya? Dan kapan Sang Ibu mau berupaya untuk memahami proses perkembangan anaknya?

Menempatkan Diri Kita di Posisi Manusia Lain

Ada banyak sekali kasus manusia yang memusuhi manusia lainnya. Beragam alasannya: warna kulit yang berbeda, inteligensi yang berbeda, karakter yang berbeda, agama yang berbeda, bahkan kecantikan yang berbeda bisa menjadi penyebab bermusuhannya manusia. Di ibu pertiwi, marak terjadi musuh-memusuhi antar mahzab agama: Muslim vs Kristen, Muslim NU vs Muslim Muhammadiyah, dan mahzab-mahzab lainnya. Perilaku memusuhi terkejam yang pernah dilakukan adalah membunuh para penganut agama lain dan membakar tempat ibadah penganut agama lain, yang pernah saya dengar sebanyak sekali sampai dua kali kejadian. Namun di dalam hati, bisa jadi ratusan bahkan ribuan orang saling memusuhi satu sama lain.

Tentu saja tidak ada yang salah jika kita menganggap seseorang salah, tetapi apakah memusuhi adalah kemutlakan yang harus dilakukan?

Kita Boleh Membenci PERBUATAN Yang Salah…

…namun hindarilah rasa benci terhadap MANUSIA yang berbuat kesalahan. Kedua rasa benci tersebut sangatlah berbeda. Ketika seorang anak balita sengaja menumpahkan susu ke atas karpet, bagaimana tidak mungkin kita merasa senang akan perbuatannya? Tentu hal tersebut membuat kita kesal dan kita tidak menginginkan perbuatan tersebut terulang kembali: karena kita tidak menyukai PERBUATAN balita tersebut. Akan tetapi, apakah lantas kita menganggap balita tersebut sebagai ‘anak nakal’? Pada kenyataannya, banyak orang dewasa (tidak hanya orang tua balita tersebut, melainkan kakaknya, nenek-kakeknya, om-tantenya, dan lainnya) tersulut emosi hingga memarahi dan mengklaim anak tersebut sebagai anak kurang ajar. Belum sempat mereka berpikir, apa alasan balita tersebut sengaja menumpahkan susu ke atas karpet: ingin membuat orang-orang kecewa dan  marah-marah, atau mungkin ia ingin tahu, bagaimana air susu bisa ‘hilang’ di atas karpet ketika ditumpahkan, sedangkan di atas lantai, air susu menggenang?

Orang tua yang baik pasti tidak akan terburu-buru memaki dan mengklaim anak dengan label tertentu. Mereka akan mencoba mengerti, apa maksud di balik perbuatan anak, lalu mencoba memberi pengertian kepada anak, bahwa perbuatannya membuat orang tua sedih. Begitulah seharusnya menjalani kehidupan sebagai manusia dengan berbagai peran di masyarakat: sebagai orang tua, sebagai kakak, sebagai tetangga, sebagai ketua kelas, sebagai ketua RT, sebagai guru, sebagai atasan, sebagai gubernur, sebagai polisi, sebagai presiden… sebagai rekan kerja, sebagai bagian dari masyarakat.

Manusia Tidak Tahu Sama Sekali tentang Status Dosa Seseorang

Saya meyakini keberadaan Tuhan, dan dalam kepercayaan mayoritas di Indonesia, Tuhan Maha Segalanya. Ketika Dia mengatakan, “Jadilah!” maka terjadilah apa yang dikehendaki-Nya.

Apa yang bisa dipelajari dari Ke-Maha-an Tuhan ini? Jika seseorang berbuat kesalahan, mengapa Tuhan tidak lantas mencabut nyawa seseorang tersebut dan membantingnya ke dalam neraka? Itu artinya, ada waktu yang SENGAJA disediakan oleh Tuhan untuk menyadari kesalahannya. Ada kesempatan hidup yang SENGAJA dibiarkan Tuhan untuk lambat laun memperbaiki perbuatannya.

Hingga saat ini, belum pernah ada seorangpun manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Ada yang melakukan perbuatan merusak dirinya sendiri (seperti merokok, narkoba, dll)

Ada yang melakukan perbuatan merusak kehidupan orang lain (mencuri, membunuh, memperkosa, dll)

Ada yang meyakini hal yang tidak bisa dibenarkan (misalnya, orang percaya bahwa Tuhan itu tidak ada)

Ada yang membiarkan seseorang merusak dirinya sendiri (tidak  mengingatkan temannya yang memakai narkoba untuk berpikir ulang akan perbuatannya) atau merusak kehidupan orang lain..

..dan Tuhan masih memberikan kesempatan kepada triliunan manusia untuk melanjutkan harinya di muka bumi.

Artinya, apakah kita berhak melabeli seseorang, ketika Tuhan saja masih memberi kesempatan? Apakah kita berhak merenggut hak seseorang untuk berproses menuju kesempurnaan, ketika Tuhan saja masih menyediakan waktu untuk berproses?

Tidaklah mulus proses yang dilakukan seseorang. Bisa jadi ada ratusan perbuatan salah yang akan dilakukan seseorang setelah melakukan kesalahannya kali ini. Namun, manusia mana yang bisa tahu, seburuk apa seseorang itu, jika Tuhan saja masih memberi kesempatan kepada orang tersebut?

‘Latihan’ Sebagai Bagian dari Proses Menumbuhkan Reflek Kecintaan terhadap Manusia

Dalam agama saya, sering didengungkan untuk menghindari rasa sombong, rasa tinggi hati, rasa lebih baik dari yang lain, dan sebagainya. Salah satu metodenya adalah dengan senantiasa beribadah di seluruh potongan hari (lima kali dalam sehari). Metode lainnya adalah dengan menyebut-nyebut sifat ke-Maha-an Tuhan di sela-sela kegiatan sehari-hari, seperti: “Maha Mengetahui”, “Maha Pengasih”, “Maha Penyayang”, “Maha Menerima Taubat”, “Maha Memberi”, “Maha Adil”, dan lainnya, bisa dengan bantuan manik-manik (kita sebut sebagai tasbih) untuk memusatkan konsentrasi kita agar tidak teralihkan kepada hal lain di sekitar kita.

Menurut pandangan saya, metode ini mampu menjaga pikiran kita dari bibit-bibit kebencian terhadap MANUSIA, sebab ruh kita senantiasa terjaga dalam kondisi menyadari akan betapa kita sebagai manusia pun ingin dimaafkan dan diberi kesempatan untuk melakukan perbaikan diri, betapa Tuhan Maha Pengasih hingga membiarkan oksigen melaju ke pernapasan kita setiap saat, sekalipun kita seringkali salah berbuat dan salah menilai.

Dalam praktiknya, sulit sekali memisahkan ‘PERBUATAN’ dengan ‘MANUSIA yang melakukan PERBUATAN tersebut’, hingga akhirnya kita terpeleset dalam kebencian terhadap MANUSIA. Meskipun begitu, perbuatan ‘membenci Manusia’ yang kita lakukan adalah perbuatan yang patut dibenci, namun KITA (sebagai pelaku perbuatan ini) tidak patut dibenci. Artinya, kita punya waktu untuk senantiasa menyadari kesalahan perbuatan-perbuatan kita setiap saat, tanpa harus membenci diri kita sendiri. Kita sedang dalam proses menuju sempurna. Dan tiada satupun manusia di muka bumi yang berhak menghentikan proses kita menuju sempurna.

 

menschenliebe
teltow-flaeming.de
Advertisements

2 thoughts on “Mencintai Manusia: Kebijaksanaan Hidup

    1. I ended up wondering why you liked this text of mine and I ended up reading my own blog again after I posted it a year ago…. and I ended up admiring the importance of humanity again..

      truly, when one wrote blogs, the next years, one forgets about what one has written, and ended up reading one’s own writing from the last years again, and being motivated with one’s own writing. it is a funny reality, and also sad… because that means, a good mindset can be forgotten – no matter how good it is.

      or maybe it is just one’s weakness to forget one’s own idea. in fact, I often forgot things.

      I thank you for commenting my blog. for make me contemplating this idea again 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s