Indonesia Kece

Bagi warga Indonesia, pemilu merupakan momen paling ramai setelah pertandingan sepakbola. Mungkin ini juga terjadi di belahan dunia lain selain Indonesia, tapi hiruk pikuk pemilu Indonesia boleh jadi termasuk yang paling membahana. Saya bukan pecinta bola. Namun kata teman-teman penggila bola, supporter heboh mendukung tim favoritnya, dan pemain bola fokus meng-gol-kan bola. Ada bahkan supporter sebuah tim yang memperheboh permainan dengan menghujat dan menghina supporter tim lainnya, bahkan supporter heboh nan nekat yang berusaha mengganggu jalannya permainan agar menghambat terciptanya gol oleh lawan. Namun, pemain bola di lapangan tidak ikut campur dengan supporter dan tetap konsentrasi menendang bola. Artinya, seheboh apapun kondisi stadion sepakbola, para pemainnya harus mempertahankan kepala dingin dan berkonsentrasi meraih tujuan, yaitu terciptanya gol di gawang lawan.

Di tanggal 8 April, 2017, NET.TV yang merupakan salah satu kanal baru, telah menayangkan sebuah program LIVE berjudul “Jakarta Kece”. Dalam program ini, pasangan calon (paslon) gubernur di Jakarta diundang ke podium di hadapan penonton di aula, serta di hadapan seluruh warga Indonesia yang memiliki saluran TV NET. Tentunya dalam kesempatan itu, setiap paslon dituntut untuk menyampaikan program, pemikiran dan pendapat mereka. Pertanyaan dari penonton pun bisa dikatakan menjadi medium bagi para paslon untuk menyebut-nyebut kembali kebolehan-kebolehan yang mereka miliki (a.k.a kampanye).

Menariknya, program ini tidak menyediakan ruang bagi para paslon untuk satu sama lain berdebat dan saling bertanya-jawab antarpaslon, seperti yang pernah dilakukan di beberapa stasiun TV. Malah sebaliknya, kedua paslon yang semuanya pada malam tersebut berpakaian (hampir) seragam biru diminta untuk bersantai: tiap paslon diminta untuk acting Stand-Up-Comedy, bertemakan “Gara-Gara Pemilu”. Karena Stand-Up itu identik dengan humor, maka di atas podium “Jakarta Kece”, para paslon yang biasanya berkampanye serius menebar visi misi itu pun berubah menjadi pelawak penuh tawa dan canda. Permainan sikut tangan di arena pemilu mungkin sudah bosan kita lihat dan kita dengar di sana-sini, bahkan di banyak acara debat pilkada LIVE. Pada malam itu, suasana politik itu agak tersamarkan oleh canda tawa antarpaslon, yang di beberapa kesempatan saling menggenggam tangan, bercanda dan tertawa bersama-sama. Jika ada orang bule yang tidak tahu apa-apa tentang pilkada DKI datang ke aula NET.TV dan menonton “Jakarta Kece” pada malam itu, atau nonton lewat NET.TV saja, niscaya orang bule tersebut tidak akan melihat bahwa kedua paslon tersebut sedang berebut kursi gubernur dan wakil gubernur… melainkan seperti kakak-beradik yang diminta untuk mengumbar kemesraan saudarawi di hadapan publik.

Di sela-sela momen serius, di mana setiap paslon diminta menyampaikan ide-ide pembangunannya, maupun menunjukkan pengetahuannya tentang Jakarta, terdapat quis-quis yang senantiasa membuat geli warga Indonesia penikmat NET.TV. Salah satu yang menurut saya pribadi menggelitik adalah, setiap calon-calon pemimpin Jakarta itu diminta untuk memainkan peran calon-calon pemimpin Jakarta lainnya. Para cagub diberi waktu untuk meniru gaya kepemimpinan cagub lainnya, begitupun cawagub.

Di tengah terbahak-bahaknya para penonton, terbersit sebuah pikiran, alangkah mengagumkannya penampilan para paslon pada malam itu. Mereka yang di dunia nyata berkompetisi sengit memperebutkan kursi kekuasaan, mereka yang belakangan ini kesehariannya tidak luput dari drama hujat-menghujat, kafir-mengkafirkan, benci-membenci, laknat-melaknat yang sebagian besar dilakukan oleh supporter-supporter mereka… mereka yang pasti sedang menghadapi masa yang tidak bisa dikatakan sebagai zona ternyaman, masih bisa menunjukkan wajah-wajah sportivitas dan wajah apresiatif. .. masih bisa mencontohkan (meskipun hanya satu malam saja) betapa kompetisi tidak memutus tali silaturahmi sebagai sesama makhluk atau manusia.

Selain kebolehan paslon, pasangan host (bukan pashost) pun menjadi pemain terbesar dalam suksesi acara TV tersebut. Selera humor mereka mampu membangkitkan gairah humor para paslon. Jujur saja, ketika para host di awal membuka acara dan para paslon belum diundang ke podium, saya agak gugup akan bagaimana jadinya mereka nanti di atas podium…. namun, humor bagaikan matahari penghangat dunia. Kalau bukan karena celana paslon yang satu berwarna cerah sedangkan yang lain menggunakan warna gelap, sehingga jelas terlihat mana pasangan dari setiap calon-calon tersebut, maka sekat pembatas antarpaslon nyaris sirna oleh humor segar. Sindir menyindir tentu menjadi hal naluriah orang-orang yang sedang berkompetisi di ranah pilkada. Namun bagaimana sindiran tersebut ditanggapi masing-masing calon dengan humor, tidak hanya menunjukkan kebolehan mereka dalam memainkan peran aktor politik, tetapi juga kedalaman berpikir etis. Omesh dan Rahma telah berhasil menjalankan peran mereka sebagai presenter pada malam itu, telah berhasil merubah suasana politik yang (sering disebut) gelap gulita oleh permainan sikut, menjadi suasana persahabatan. Terimakasih, presenter-presenter… kalian Kece!

Dan apa sesungguhnya yang menjadi motif stasiun TV NET dalam menayangkan program ini? Hanya Tuhan dan pembuat program yang tahu. Saya hanya orang awam politik, yang bermodalkan sedikit pengetahuan saja namun suka menganalisis… barangkali tayangan ini ditujukan untuk menetralisir keadaan. Ibarat kondisi yang terlalu asam harus dinetralisir dengan basa, pun sebaliknya, basa harus dinetralisir dengan asam. Kita sudah cukup banyak mendengar dan melihat pesan-pesan kebencian, hujatan menjatuhkan, ancaman, bagi pilihan politik yang berbeda. Tidak  bisa dipungkiri, bahwa bagi sebagian orang, mungkin merupakan hal yang dianggap positif untuk membenci orang lain yang tidak satu tujuan, sebagai benteng pertahanan bagi tujuan yang mereka muliakan. Dikala pandangan ini terlalu intensif dimiliki oleh sebagian orang, maka hanya akan terjadi bencana kemanusiaan, di mana pemaksaan kehendak dan intoleransi perbedaan akan merajalela, berujung pada tindakan otoriter yang mematikan kehidupan demokrasi dalam sebuah masyarakat. Pandangan yang tidak sepenuhnya keliru ini, harus dinetralisir oleh pandangan yang menjunjung tinggi toleransi dan kemanusiaan. Manusia di dunia ini adalah makhluk individual dengan otak dan perasaannya masing-masing, mereka diberikan kemampuan oleh Allah untuk membuat keputusan secara mandiri, dan tidak hanya mengenai keputusan kolektif saja. Untuk itu, pemberian Allah inilah yang harus dihargai oleh manusia, bahwa keputusan seorang individu yang berbeda pun harus tetap dihargai sebagai bentuk penghargaan terhadap hak yang Allah berikan kepadanya.

NET.TV pada malam itu berhasil mencetak tayangan yang viral di sosial media seketika malam itu juga. Artinya, pesan perdamaian yang ditujukan untuk menetralisir kebencian yang sudah meradang itu mampu dikatakan telah berhasil viral, setidaknya di sosial media. Itu prestasi! Itu niat baik! Itu hal yang sangat patut dihargai. Terimakasih, NET.TV…. kamu TV Kece!

Pada akhirnya, yang patut diberikan ucapan terimakasih adalah paslon-paslon itu sendiri. Hari ini akan banyak orang yang berpikir, “Itu pencitraan. Politikus itu harus pandai melihat situasi dan memasang topeng. Di acara talk show begituan, mereka harus berpura-pura menjadi malaikat agar publik bisa menyangka bahwa mereka itu malaikat. Tapi lihat saja hari-hari setelah turun panggung, akan menjulang tinggi lagi hasrat meraih kekuasaan mereka…”

tumblr_n0iivkaUgs1trlmdvo1_500
rebloggy.com

Bagi saya, tidak ada yang melarang orang-orang tersebut berpikir demikian, bisa jadi bahkan pikiran itu benar. Namun apakah saya kehilangan rasa terimakasih saya kepada para paslon ini? Tidak. Mereka yang pada malam itu berhasil menahan diri dari menjatuhkan lawan, mereka yang pada malam itu berhasil menjadi pemeran utama nilai-nilai sportivitas, mereka yang pada malam itu berhasil menjadi model kompetisi persahabatan, telah menoreh hikmah bagi penonton cerdas, akan nilai penting kompetisi yang beretika.

THANK YOU, PASLON… kalian-kalian Kece!

 

***

 

Aku pilih ini, kamu pilih itu. Aku dukung ini, aku dukung itu.

Aku tidak lebih baik darimu. Kamu tidak lebih baik dariku.

Pilihanku yang terbaik menurutku, pilihanmu yang terbaik menurutmu.

Aku tidak tahu apa aku benar. Kamu tidak tahu apa kamu benar.

Hanya Tuhan yang Maha Tahu, kita hanya mendekati kebenaran.

Aku biarkan kamu memilih pilihanmu, kamu biarkan aku memilih pilihanku.

Suatu saat nanti, Tuhan ‘kan menunjukkan kita berdua cahaya yang terang.

Kamu hargai pilihanku. Aku hargai pilihanmu.

Karena Tuhan memberikanku hak untuk memilih sesuai keputusanku,

dan Tuhan memberikanmu hak untuk memilih sesuai keputusanmu.

Tuhan ‘kan menghisabku, Tuhan ‘kan menghisabmu.

Aku dan kamu, tidak pernah tahu, bagaimana hisab-Nya.

Advertisements

2 thoughts on “Indonesia Kece

  1. Mba Vadhiliya bagus sekali tulisannya 🙂 Saya juga salah satu penikmat Net.TV karena menurutku pribadi, ditengah maraknya pengejaran rating didunia pertelevisian, hanya NET sih yang masih berjalan diranah kaidah pertelevisian yang tidak mainstream.

    Thanks for your article!

    1. Sama-sama, saya setuju, NET TV itu baru tapi kualitas programnya menang saing. Senang punya saudara sesama penyuka Net TV, selain keluarga saya. Keep blogging 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s