Moana…

Walt Disney lagi-lagi mendobrak hati penontonnya yang cerdas. Film animasi identik dengan film anak-anak, dengan figur yang lucu dan jalan cerita yang mudah diikuti. Meskipun begitu, bagi sebagian anak, jalan cerita di banyak film animasi tidak bisa diikuti dalam satu kali menonton. Dibutuhkan waktu untuk memahami apa sih yang sebenarnya diceritakan di film animasi tersebut, mengapa tokoh ini melakukan itu, dan mengapa tokoh yang lain bersedih? Jangankan anak-anak, orang dewasa pun kadang harus menonton tiga kali untuk memahami sebuah film. Ini masih berbicara mengenai pemahaman terhadap alur cerita…. belum lagi PR kita yang selanjutnya ketika menonton film, yakni menarik pesan moral film tersebut. Kadang kita bisa menarik pesan moral film di kali pertama kita menonton, tetapi sesungguhnya jika kita menonton untuk yang ke-dua kalinya dan ke-tiga kalinya, bisa jadi ada pesan-pesan lain yang belum kita temukan di awal kali menonton. Inilah yang disayangkan, karya besar seniman film belum mencapai puncaknya ketika penontonnya tidak memperhatikan hingga ke pesan moral film-filmnya, dan hanya puas menonton ‘luaran’ (figur cantik tokoh-tokohnya, humor, dan alur cerita). Tentu tidak salah untuk hanya menikmati luarannya saja. Tapi, Moana saja bilang “there is more in Heyhey than meets the eye”.

Moana adalah film yang mengandung pesan moral yang sangat tinggi. Bagi orang lemot seperti saya, baru di kali ke-4 saya menonton film inilah, pesan moral tertinggi ini saya dapatkan.

Children need chances. To prove and improve themselves

babymoana-1280x600
cartoonbrew.com

Masih ingat ketika ayah Moana melarangnya pergi ke lautan? Ayahnya berniat baik. Ia tidak ingin Putri nya terluka di lautan. Lebih jauh lagi, Ayahnya tidak ingin budaya berlayar kembali dijiwai oleh masyarakatnya.

Berdasarkan cerita, Ayahnya membenci lautan oleh karena trauma di masa lalu. Ia tidak berhasil menyelamatkan jiwa temannya ketika lautan kala itu tidak ramah terhadap mereka. Setelah pimpinan warga pada saat itu mengambil kebijakan untuk berhenti berlayar sementara waktu, ketakutan itu terus berada pada diri Ayahnya. Hingga tiba waktunya Ayahnya harus menjadi pimpinan warga, kebijakan berlayar masih ditabukan.

Moana memiliki passion yang tinggi terhadap lautan. Meskipun di awal film, seakan-akan alam telah “memanggil” Moana untuk kembali berlayar, Moana menyadari bahwa “panggilan” tersebut bukanlah berasal dari alam… melainkan dari dalam dirinya sendiri. It’s called passion (pembuat film ini sangat cerdas memainkan metafora dan personifikasi! Salut sekali.)

Ayahnya tidak pernah mengizinkan Moana berlayar… hingga pada suatu hari Moana terpaksa berlayar, meskipun tanpa seizin Ayahnya. Namun pada akhirnya, Ayahnya mengetahui bagaimana Moana telah membuktikan passion nya. Di perjalanan di atas laut, banyak hal mengenai berlayar yang ia pelajari bersama partner perjalanannya. Dari passion muncul bakat dalam diri gadis tersebut, yang membuat seluruh warganya akhirnya bisa kembali ke budaya perlayaran mereka.

Hal ini tidak hanya terjadi pada film fantasi Moana. Kenyataannya, di Indonesia banyak sekali orang tua yang merasa ketakutan akan sesuatu hal, entah takut melepas anak naik angkutan umum sendirian, takut akan budaya, takut akan jurusan kuliah, dan lain lain. Apa yang dilakukan? Orang tua melarang anak-anaknya melakukan hal-hal yang ditakuti tersebut. Ngomong-ngomong padahal, melalui larangan, anak-anak bisa semakin penasaran lhoo terhadap apa yang dilarang. Selain itu, sebenarnya melarang adalah proses membatasi. Jika anak dibatasi dalam perilakunya, bisa jadi anak akan melakukan apa yang orang tua harapkan. Namun siapa yang tahu bahwa apa yang tidak dilakukan oleh orang tua itu tidak lebih baik dari apa yang biasanya dilakukan oleh orang tua? Bagaimana Ayahnya Moana bisa tahu bahwa berlayar dengan ilmu akan membawa kemaslahatan warga yang lebih banyak, jika Moana tetap tidak berlayar?

Inilah hal yang patut direnungkan bagi para orang tua, maupun para calon orang tua…. sejauh mana sih kita bisa melarang anak-anak kita dalam proses mendidik mereka?

Maui bukan orang jahat. Lihatlah lebih dekat…

Aktor animasi berotot dan bertato itu terlihat garang, meskipun kerap membuat saya tertawa ketika melihat acting nya. Pada mulanya, Moana mengira bahwa Maui memang seorang yang jahat, karena telah mencuri jantung dari Te Fiti. Persepsi ini tidak lepas dari dongeng yang diceritakan oleh Neneknya Moana.

Seiring dengan petualangan Moana di atas laut bersama Maui, Moana lambat laun tahu, bagaimana Maui kecil terbuang di masa lalu, dan bagaimana Maui sebenarnya tidak hendak mencuri jantung Te Fiti untuk mengguncang peradaban.

Maui garang pun menjadi Maui ramah, yang telah membantu Moana melakukan perjalanan panjang hingga sampai ke tujuan pelayaran: Te Fiti. Perjuangan mereka menyelamatkan dunia telah membawa mereka semula dari saling membenci dan berpersepsi buruk, menuju saling-pengertian dan persahabatan.

Itulah yang sebenarnya juga bisa terjadi di dunia nyata. Kadang, penilaian kita akan seseorang terlalu tergantung dari cerita-cerita orang lain, atau dari tampilan fisik seseorang saja. Setelah itu, muncul banyak penilaian yang tidak jarang selalu negatif. Tindakan kita akhirnya menjauhi orang tersebut, dan yang lebih parah lagi, menyebarkan persepsi-persepsi kita tadi kepada orang lain sehingga orang lain pun ikut berpersepsi buruk terhadap seseorang tersebut.

Mempersepsi dengan gaya seperti ini memang manjur untuk menghindari kemalingan, pencopetan, pemerkosaan, dan penghipnotisan. Namun ketahuilah, bahwa di dunia ini tidak hanya ada maling, copet, pedofil dan dukun. Miliaran manusia di dunia diciptakan dari satu Tuhan yang sama, yang telah memberikan naluri kebaikan. Pertanyaannya hanyalah, apakah lingkungan tempatnya tinggal telah memberikannya kemantapan bahwa ia orang yang baik, dan bukan orang yang suka mencuri? Ingat, banyak manusia akan merasa bodoh jika lingkungannya menegaskan bahwa ia memang bodoh.

Manusia punya sisi emosional. Accept it, and be friend again!

thumbnail_25099
trailers.apple.com

Masih ingat ketika Moana memaksakan diri berlayar melalui pegunungan untuk masuk ke wilayah Te Ka? Pada saat itu, Maui tidak setuju terhadap ide Moana tersebut dan berusaha membalikkan arah kapal layar mereka. Singkat cerita, demi melindungi diri mereka dari serangan Te Ka yang mendapati pelayaran mereka ke wilayahnya, Maui harus menghadapi kenyataan bahwa kail ajaibnya saat itu tidak lagi berfungsi dengan baik.

Maui menyalahi Moana akan rusaknya kail ajaibnya itu. Moana menyadari bahwa ia telah keras kepala, namun Moana sempat tidak mempedulikan perasaan Maui, yang kailnya baru saja rusak. Moana meminta agar mereka terus berlayar menuju Te Ka. Namun Maui tidak ingin melanjutkan pelayaran, dan lebih memilih untuk pergi meninggalkan Moana sendiri. Maui bahkan membuat Moana ragu akan dirinya sendiri, “the ocean chose wrong“.

Sekilas, sebenarnya tidak ada yang tahu apakah ide Moana untuk menerobos wilayah Te Ka akan berhasil, jika Maui tidak berusaha membalikkan arah kapal layar mereka. Sehingga, bisa saja spontanitas Moana akan berhasil, jika Maui membiarkan Moana menjalankan inisiatifnya. Namun Maui yang penuh kekhawatiran tidak sempat berpikir sampai situ. Wajar saja, ia saat itu sedang EMOSI.

Moana pun tidak mempedulikan perasaan Maui yang kala itu bersedih karena kailnya. Moana terlalu terlarut EMOSI semangat mengembalikan jantung Te Fiti, hingga ia lupa bahwa Maui sedang bersedih.

Maui pun tidak mampu mewajari semangat Moana pada saat itu, dan lebih memilih untuk meninggalkan Moana. Itu karena Maui sedang EMOSI (sedih, karena kailnya rusak).

Tapi lihat saja, di akhir cerita, Maui tiba-tiba muncul kembali untuk membantu Moana. Ini logis sekali. Terkadang, ketika seseorang menyendirikan diri pasca pertengkaran EMOSIonal, di situlah awal seseorang menarik benang-benang merah, hingga menyadari bahwa pertengkaran tadi hanyalah karena terlarut EMOSI. Apa yang terjadi pada keseharian manusia, semuanya karena manusia punya potensi EMOSI. Wajar sekali, namanya bukan manusia jika tidak pernah emosional.

Saya pernah berpikir lebih jauh lagi. Okelah, kalau konteks keseharian, orang-orang bisa saling memaafkan dan kemudian melanjutkan kembali hubungan persahabatan. Namun bagaimana jika seorang kriminal melakukan kesalahan karena emosi? Apa ada pengecualian untuk tidak dimaafkan dengan cara dipenjarakan selama-lamanya? Ini sulit dijawab, membutuhkan ilmu-ilmu hukum dan ilmu psikologi untuk mendapatkan jawabannya. Namun, saya bermodalkan naluri dan secuil ilmu psikologi dan agama saja, bahwa tidak ada pengecualian dalam memaafkan. Memasukkan seseorang ke dalam penjara bisa saja dilihat sebagai hukuman terhadap seseorang tersebut. Namun, bagi yang paham psikologi dan agama, menahan seseorang di balik jeruji besi merupakan proses untuk memberikan kesempatan berpikir. Setiap kriminal memiliki daya nalar yang berbeda-beda. Ada yang mampu merefleksikan secara mandiri, hingga akhirnya mencapai taubat. Ada juga yang tidak bisa mandiri berefleksi, sehingga membutuhkan penunjang dari luar. Di situlah peran ilmu hukum dan psikologi, untuk mengatur bagaimana caranya agar design dan pengaturan penjara bisa membuat kriminal merefleksikan diri. Di Jerman bahkan ada istilah Gefängnisseelsorge. Artinya “pemelihara jiwa di penjara”. Itu adalah sebuah profesi legal, yang diamanahkan untuk berdialog dengan para kriminal di penjara. Melalui dialog dengan pekerja tersebut, diharapkan para kriminal bisa merefleksikan diri.

Sehingga, cara pandang kita terhadap penjara bisa mempengaruhi tercapai atau tidaknya tujuan diadakannya penjara itu. Jika penjara dianggap sebagai hukuman, maka seorang napi akan merasa kesulitan memahami emosi dirinya sendiri pada saat melakukan kriminalitas. Napi yang tahu diri akan berpikir, “Mengapa mereka tidak mau memaafkan saya dan membebaskan saya?” Yang tidak cerdas, tidak akan mempertanyakannya, dan justru merasakan tekanan. Ia akhirnya tidak mampu menyadari keadaan emosinya saat melakukan kriminal, dan tidak pula bisa melihat kerugian yang ia telah timbulkan dari perilakunya tersebut. Karena yang ia fokusi hanyalah rasa tak berguna, merasa dibatasi di dalam penjara, rasa malu karena dihukum (sekali lagi, saya bukan seorang ahli hukum dan psikologi. Saya menggunakan nalar, dan pembaca diberikan kebebasan untuk terpengaruh cara pandang saya atau tidak).

Kembali lagi ke Moana, film kartun ini menunjukkan, bahwa EMOSI bisa memperkokoh RELASI, jika seseorang menerima kenyataan bahwa orang lain dan dirinya sendiri sedang emosional. Jadi, setelah bertengkar, seharusnya orang-orang akan mewajari, lalu baikan lagi. Yang terpenting adalah accepting other people’s emotion and oneself’s emotion. Itu menjadi kunci gerbang menuju dunia yang indah.

Reasking the question, “Should I give up now?”

Masih ingat hantu nenek Moana di kapal, ketika Moana menangis tersedu karena Maui meninggalkannya sendiri?

Moana merasa, bahwa dirinya bukanlah orang yang tepat untuk berlayar menyelamatkan dunia.

Neneknya pun menyerahkan keputusan pada Moana, dengan penuh kelembutan hati.

Moana berniat berbalik arah layar ke rumahnya di Pulau Motunui.

Namun ada sesuatu yang menghentikan Moana ketika hendak mendayung perahunya ke rumah.

Neneknya bertanya, “Apa yang menghentikanmu, Moana?”

Moana pun berpikir, dibantu oleh nyanyian Sang Nenek Hantu.

moana and her grandmother disney
businessinsider.com

Di sinilah letak nilai moral yang paling saya dambakan dalam film ini. Moana, adalah anak gadis dari seorang kepala suku. Sudah menjadi takdirnya untuk menggantikan Ayahnya suatu saat nanti menjadi kepala suku. Namun, keinginan untuk menerjang lautan dan mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan di lautan mendapat penolakan dari Ayahnya. Sehingga Moana kecil berusaha mengubur keinginan besarnya tersebut, demi menyenangkan hati Ayahnya.

Moana remaja kemudian mendapatkan perintah dari neneknya untuk menerjang lautan, menyelamatkan dunia dari bahaya kelaparan. Tanpa seizin Ayah namun dengan restu Nenek dan Ibu, Moana berlayar untuk pertama kalinya mengarungi ombak lautan yang kadang bersahabat dan kadang keras. Di perlayarannya, ia mampu bersahabat dengan orang yang dibenci oleh warga dunia, yakni Maui. Hingga perlayaran itu mampu mengantarnya menuju tempat yang sangat jauh, yang memang hendak ditujunya, yakni Gunung Te Fiti.

Namun misi belum selesai, karena di Gunung Te Fiti, Moana harus memasang kembali Batu Hijau tepat di jantung Te Fiti. Karena keras kepala yang sempat merasukinya, Moana akhirnya harus menahan rasa sedih ditinggal pergi oleh Maui sendirian. Dalam sedihnya itu, ia merasa bahwa tidak mungkin mencapai misi tanpa Maui. Ia merasa bahwa dirinya memang bukan yang layak berlayar. Ia bukan pelayar sejati, seperti yang dahulu ia yakini. “I am not the chosen one”, kata Moana sambil tersedu.

Terlepas dari apakah Moana benar-benar the Chosen One atau bukan, terlepas dari apakah Moana pelayar sejati ataukah tidak, nyatanya, Moana sudah berhasil mengarungi 90 % perjalanan laut. Itulah kenyataannya. Jika pada akhirnya, Moana kembali lagi ke rumah, dengan posisi tinggal 10 % lagi mencapai keberhasilan, bagaimana jadinya? Dan bayangkan apabila Moana melanjutkan 10% yang tersisa, bagaimana jadinya?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang (saya yakin) menghentikan Moana mendayung kembali perahunya ke rumah. She sailed that far. She almost made it! Ketika seseorang berkata bahwa ia ingin menyerah, sesungguhnya ia sedang tidak terpikirkan pertanyaan-pertanyaan di atas. Di masa depan, keputusan menyerah yang terburu-buru ini berpotensi mendatangkan penyesalan besar… “Kalau saja dulu aku sedikit berusaha lagi dan tidak cepat menyerah….” begitu kira-kira bunyi kalimatnya di masa depan.

Namun memang, meskipun tinggal 10%, tapi jika seseorang sedang jatuh, pasti akan terluka, dan luka itu kadang menghentikan seseorang. Moana terluka hatinya karena Maui meninggalkannya begitu saja. Selain itu, Moana dicap sebagai utusan yang salah dari pulaunya, dan Moana tidak akan pernah bisa berhasil menjalankan misi ini. Ungkapan-ungkapan itulah yang membuat Moana begitu sakit hati, down dan ingin menyerah. Luka di hatinya itu membuatnya enggan melanjutkan misinya yang tinggal 10% lagi.

Namun, ada satu hal yang harus diingat…. bahwa…

Luka itu bisa disembuhkan…

“Scars can heal” kata hantu nenek Moana dalam senandungnya di atas perahu.

Luka hanya harus diobati, agar bisa sembuh. Dan yakinilah, bahwa ada obat untuk setiap luka.

Hati yang terluka bisa diobati, bahkan hanya dengan secuil motivasi dari mulut seseorang yang kita sayang. Moana menyadari, bahwa pada akhirnya, bukanlah lautan yang memberikan misi penyelamatan dunia itu kepadanya. Moana lah yang bersedia mengambil alih misi penyelamatan dunia itu. Dan berhasil atau tidaknya ia dalam menjalankan misi, bergantung dari dirinya sendiri, apakah ia mau mencoba lagi, atau tidak.

Seperti lirik yang dinyanyikannya di atas perahu:

And the call isn’t out there at all,

it’s inside me…

It’s like a tide, always falling and rising”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s