Buramnya Etika Mengkritik Pemimpin

Perhatikanlah tiga Analisa di bawah ini.

Analisa A – Investasi Dana Haji

Masyarakat sekarang ini (di bulan Juli 2017) dikagetkan oleh keputusan pimpinan negara dalam menggunakan dana haji masyarakat Indonesia untuk keperluan pembangunan infrastruktur.

Pimpinan tersebut mengatakan, bahwa daripada uang triliunan itu diam belasan tahun, lebih baik diputarkan. Gagasannya adalah “Investasi Dana Haji”. Beliau berencana menggerakkan uang haji masyarakat yang triliunan tersebut di sektor-sektor yang minim risikonya dan potensial keuntungannya. Disebut-sebutlah sektor jalan tol dan pelabuhan sebagai lahan investasinya.

Mendiamkan dana haji selama bertahun-tahun akan mendatangkan risiko pembatalan naik haji, sebab harga setelah tahunan lamanya akan terus naik, sedangkan dana diam di tempat tidak ada penambahan sama sekali. Apabila diinvestasikan, dana akan berpotensi berkembang jumlahnya.

Bagaimana dengan yang ingin naik haji? Apakah tetap akan naik haji jika uangnya diinvestasikan oleh pemerintah? Pimpinan berkata, dari investasi tersebut akan dihasilkan keuntungan dalam jumlah besar dan secara berkala. Dari keuntungan yang dihasilkan itulah, calon jamaah haji yang sudah waktunya naik haji akan dibiayai. Sedangkan yang belum waktunya naik haji, tetap akan dibiayai oleh keuntungan investasi jika waktu naik hajinya tiba.

Analisis B – Pemanfaatan Dana Haji untuk Pembangunan Infrastruktur Negara

Masyarakat dewasa ini dihebohkan oleh berita bahwa pimpinan negeri akan menggunakan dana haji masyarakat Indonesia untuk kepentingan negara.

Jumlah dana haji yang mencapai triliunan rupiah cukup menjanjikan untuk dijadikan modal pembangunan ekonomi. Selain itu, pimpinan saat ini memanfaatkan peluang penggunaan dana haji di tengah situasi ekonomi yang bisa dikatakan hampir tidak stabil. Menghimpun dana untuk pembangunan infrastruktur itu cukup sulit, sehingga dana haji yang triliunan bisa menjadi solusinya.

Dengan demikian, pimpinan negeri telah memanfaatkan dana haji yang telah disetorkan warga muslim Indonesia untuk keperluan mereka menjalankan ibadah haji.

Analisis C – Pencurian Dana Haji untuk Keperluan Bisnis Negara

Pimpinan negeri telah membuat keputusan untuk menggunakan dana haji bagi kepentingan ekonomi negeri. Dana yang awalnya disetorkan oleh warga Muslim kepada Kementerian Agama untuk biaya beribadah ke tanah suci, dialihfungsikan untuk pembangunan sektor-sektor negara.

Pimpinan negeri tidak tahu lagi harus dari mana mengumpulkan dana dalam jumlah banyak untuk keperluan bisnis negara. Melihat jumlah dana haji yang triliunan rupiah banyaknya, maka pimpinan segera memutuskan untuk menggunakan dana besar tersebut agar bisnis negara bisa berjalan.

Sedangkan warga Muslim yang menyetorkan dana hajinya kepada kementerian sebenarnya berniat untuk menabungkan dana tersebut agar kelak bisa digunakan untuk naik haji. Mereka sengaja mengumpulkan uang bertahun-tahun agar bisa menjalankan pilar Islam yang ke-5. Tidak ada dalam agenda mereka mengumpulkan uang untuk membantu pimpinan negeri membangun infrastruktur negara.

Ini sama saja dengan logika seorang pencuri. Karena tidak punya daya untuk memenuhi keperluannya, pencuri memutuskan untuk memanfaatkan perhiasan orang lain untuk membayar hutang. Diambillah perhiasan orang lain tersebut.

Dapat disimpulkan, bahwa pimpinan negeri telah mencuri dana haji warga Muslim untuk keperluan bisnis negara.


 

Kabah-sinertour-co-id
shamsuddinwaheed.blogspot.com

 

Dapatkah kamu merasakan perbedaan perasaan ketika membaca ketiga analisa di atas?

Saya (orang semi-awam di negeri ini) akan membagikan apa yang saya rasakan ketika membaca tiga analisa di atas.

Membaca Analisa A

Membaca analisa A ini, hati saya adem ayem. Pasalnya, saya melihat bahwa analisa itu menunjukkan niat baik seorang pemimpin dalam menyelamatkan dana haji, dan membantu warga Muslim untuk menjalankan haji. Selain itu, saya bisa melihat kelogisan pendapat pimpinan, lewat penjelasannya mengenai perputaran uang.

Membaca Analisa C

Berbalikan dengan ketika membaca analisa A, saya justru mengernyitkan dahi sedalam-dalamnya ketika membaca analisa C. Saya mendapat kesan bahwa pimpinan adalah sosok yang ceroboh, yang tidak menemukan jalan keluar lagi di tengah tekanan, sehingga memilih untuk mengambil tindakan heboh. Kesan ini semakin intensif dengan dipaparkannya logika pencurian.

Membaca Analisa B

Analisa B tidak membuat saya adem, dan tidak juga membuat dahi saya mengernyit. Biasa saja.


Padahal, ketiganya memaparkan satu peristiwa yang sama: pimpinan membangun infrastruktur dengan dana haji. Tapi kesan yang timbul beragam: ada yang senang dan mendukung, ada yang benci dan membuat petisi.

Kok bisa? Mudah saja. Ini seperti kita melihat mi instan: ada yang senang mi instan dan memasaknya hampir setiap hari, dan ada yang tidak senang sehingga memboikot mi instan. Yang senang mi instan melihatnya dari sisi kepraktisannya dan kelezatannya. Apalagi jika sedang ditekan oleh deadline, maka semakin dirindukan keberadaan mi instan. Berbeda dengan atlet olah raga yang menjauhi mi instan. Mereka melihat mi instan dari sisi kandungan gizi dan zat kimia yang merugikan tubuhnya. Jadi, menjauhlah mereka dari mi instan.

Jadi, melihat perilaku pemimpin bangsa juga sama seperti melihat mi instan. Tidak ada yang melarang seorang pun di negeri ini untuk melihat perilaku pimpinan dari sisi yang mana. Karena memang pikiran setiap orang itu berbeda-beda. Tidak bisa juga seseorang dilarang untuk menganggap mi instan sebagai bahan beracun.

Kalau sudah dibebaskan menilai perilaku pemimpin, sekarang timbul pertanyaan, bolehkah mengeraskan suara dalam menyampaikan penilaian pribadi tersebut. Saya pribadi berkeyakinan bahwa hal tersebut boleh, bahkan dianjurkan untuk dilakukan. Sejarah juga pernah mengajarkan kita, bahwa ketidakbebasan warga dalam menyampaikan pikirannya akan melahirkan ke sepihak an pemimpin. Jika penilaian pribadinya bertentangan dengan perilaku pemimpin, maka tidak apa-apa, karena itu seperti di sidang skripsi: ada tesis, ada antitesis, keduanya saling menguji dan menguatkan.

Kalau sudah dianjurkan untuk menyampaikan penilaian pribadi, timbullah pertanyaan selanjutnya: di mana kita bisa mengeraskan suara? Kalau sidang skripsi, antitesis dinikmati oleh dosen dan mahasiswa pembuat skripsi. Kalau penilaian pribadi atas pemimpin, bagaimana?

Beberapa orang mengeraskan suaranya di depan publik, entah di sosmed maupun lewat TOA. Di sosmed, banyak orang super awam yang tidak mengetahui seluk beluk perilaku pimpinan, tiba-tiba dihujani pandangan-pandangan subjektif orang tersebut. Orang super awam yang kritis mungkin mau kroscek. Yang tidak kritis boro-boro, langsung diambil ke ranah afeksi, baik tambah cinta pada pimpinan maupun jadi benci.

Kalau penilaian pribadi isinya seperti contoh analisa A, maka orang super awam tidak kritis langsung cinta pada pimpinan dan mendukungnya. Padahal, penilaian pribadi tipe analisa A itu barangkali belum sempurna, masih bisa dikritisi. Contohnya, meski rasanya adem ayem, tapi saya bertanya-tanya, apakah investasi itu benar-benar akan mendapatkan keuntungan yang sanggup membayarkan calon jamaah pergi naik haji? Apakah ada jaminan kepada para caljam? Dan apakah para caljam sudah mengetahui bahwa ada kemungkinan (berlaku hukum probabilitas sesedikit apapun itu) kerugian dalam investasi dana haji ini? Bagaimanapun juga, dana itu milik para caljam. Khawatirnya kalau tidak kritis, pimpinan mengambil keuntungan. Dalam sejarah, ada pimpinan yang menggunakan kata-kata manis untuk melakukan kejahatan yang terselubung di baliknya. Tidaklah ingin kita mengulang sejarah.

Kalau seperti analisa C, maka orang super awam tidak kritis langsung benci pada pimpinan. Akibatnya, rakyat dan pimpinan hubungannya merenggang. Jadilah negeri terpecah belah karena antara pimpinan dan rakyatnya tidak ada kesepaduan. Padahal, syarat pembangunan negeri adalah adanya sinergi antara yang memimpin dengan yang dipimpin.

Lantas baikkah kita mengeraskan suara di depan publik?

Di negeri demokrasi, katanya sih sah-sah saja berkicau soal penilaian pribadi, bahkan dianjurkan. Saya juga sekarang sedang melakukannya. Kenapa di negeri demokrasi ini dianjurkan? Karena kebebasan berpendapat itu memungkinkan rakyat untuk dapat tesis dan antitesis… Jadi rakyat bisa membanding-bandingkan sendiri mana penilaian yang sesuai kenyataan, mana yang harus diyakini.

Tapi ada permasalahan. Siapa yang bisa jamin,  bahwa rakyat negeri sudah mandiri banding-bandingkan informasi? Benarkah mereka tidak punya kecenderungan untuk mengikuti berita yang pertama didengarnya? Benarkah mereka tidak taklid buta mendengar informasi yang paling gencar dikicaukan?

Kalau rakyat taklid terhadap berita baik pimpinan, bisa-bisa pimpinan memanfaatkannya untuk kekuasaan. Akhirnya “bumbu manis di atas tai kerbau” jadi metode andalan meng-goal kan kepentingan. Akhirnya kita mengulang sejarah.

Kalau rakyat taklid terhadap berita buruk pimpinan, bisa-bisa merengganglah hubungan pimpinan dan rakyat. Rakyat jadi tak percaya pada pimpinan, menurunlah dukungan rakyat pada pimpinannya. Rakyat tidak bangga pada pimpinan, malu di hadapan negara lain. Kerenggangan hubungan ini niscaya awal dari runtuhnya sebuah negara. Jatuhnya sebuah komunal sebagian besar disebabkan dari internal, bukan dari luar komunal tersebut. Sejarah telah mengajarkan kita lewat dinasti Islam di Timur Tengah maupun kerajaan Hindu di Malay Archipel. Akhirnya kita mengulang sejarah juga.

Kalau sudah melihat risiko di sana sini, bagaimana ya enaknya:

boleh gak ya kita menyampaikan penilaian pribadi tentang pimpinan kita di hadapan publik?

kalau boleh, bagaimana ya etikanya?

Saya kan orang semi-awam, tidak berani menjawab. Biar orang hukum yang bicara. Atau pakar etika.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s